Renungan KBM Pertama di Muallimat: Guru Wajib Bergembira Ketika Mengajar
Selama ini mungkin kegiatan mengajar hanya ditafsirkan sebagai kegiatan transfer pengetahuan. Kita menjelaskan materi, kemudian materi diterima oleh siswa, dan selanjutnya siswa mungkin akan diberi tugas, itu saja? Mungkin, itu bisa saja benar. Namun, hal itu berbeda ketika berada di instansi pendidikan yang benar-benar niat untuk mendidik. Kita tahu di instansi pendidikan pasti sudah dirancang apa yang sering kita sebut dengan perangkat belajar. Ya, kelihatannya hanya sebuah formalitas, karena terkadang ketika pembelajaran dipraktikkan ada saja hal-hal yang membuat tujuan pembelajaran jadi kurang efektif, atau praktiknya tidak sesuai dengan modul.
Sebenarnya apakah hal itu wajar? Tentu saja sangat
wajar. Mengingat pengajar dan yang diajar adalah manusia, yang notabene makhluk
emosional dan memiliki berbagai mood yang bisa berubah kapan saja, itu adalah
hal yang sangat wajar. Untuk itu, proses pengajaran bisa kita katakan sangat
dinamis, tidak bisa selalu konsisten seperti robot yang dikunci oleh sistem.
Disclaimer, renungan ini bukan pembahasan yang terlalu serius,
tetapi mungkin renungan ini bisa membantu kita – mahasiswa PKL agar tetap
semangat dan termotivasi untuk mengajar.
Beberapa hari yang lalu, kami sempat bertukar cerita
tentang hari pertama mengajar mata pelajaran bahasa Arab di MTs Muallimat.
Rasanya bermacam-macam. Ada yang deg-degan, ada yang biasa saja, ada juga yang excited
untuk mengajar. Bahkan, kegiatan belajar mengajar ini mengajak Kamal – salah
satu anggota PKL kami bernostalgia ke bangku sekolahnya dulu.
Bagi Najwa, kesan pertama masuk kelas cukup unik.
Selain karena seluruh siswanya laki-laki, responnya pun beragam – sebagian
antusias, sebagian lagi abai, bahkan ada yang tertidur di jam pelajaran. Alih-alih merasa sebal, Najwa memilih memaklumi hal itu, mengingat ini baru pertemuan pertama saja.
Harapannya cukup sederhana "semoga ke depannya siswa kelas sembilan putra
bisa lebih fokus mendengarkan dan lebih mudah memahami materi yang aku sampaikan"
Lalu bagi Luna, ia juga punya cerita yang tidak kalah
menarik. Ia menyukai murid-muridnya yang ia gambarkan lucu dan cukup antusias. Hanya
saja mereka belum benar-benar "jatuh cinta" pada bahasa Arab. Dari pada kecewa, Luna justru menjadikan hal itu sebagai tantangan baginya, yakni
bagaimana caranya, dalam waktu empat puluh hari PKL, ia bisa menumbuhkan kecintaan siswa
terhadap bahasa Arab. Itu semangat yang cukup menyentuh.
Di sisi lain, cerita Miftah agak berbeda. Sejak awal
ia sudah menduga bahwa murid-muridnya kurang menyukai bahasa Arab – dan
ternyata dugaan itu benar adanya, bahkan para siswa pada saat itu mengakui
sendiri bahwa mereka tidak suka dengan bahasa Arab. Bagi Miftah, itu juga
sebagai tantangan sekaligus motivasi "agar ke depannya,
aku bisa membuat pembelajaran yang kreatif, yang insyaAllah bisa menggugah
semangat teman-teman dalam belajar bahasa Arab," harapnya.
Berbeda dengan Miftah, Dania justru mengawali harinya
dengan perasaan senang. Ia merasakan semangat mengajar yang ternyata disambut
semangat pula oleh murid-muridnya untuk belajar. Itu artinya tidak ada kendala
apa pun di kelas, tidak ada rasa cemas berlebih yang membuatnya enggan kembali
ke kelas keesokan hari. Kabar baik, semua terasa aman dan menyenangkan.
Ada satu benang merah yang bisa kita tarik
dari cerita Miftah dan Dania. Keduanya sama-sama masuk kelas dengan keyakinan
awal, keduanya juga sama-sama menemukan keyakinan itu terbukti benar, meski
dengan arah yang berlawanan. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal dengan
istilah self-fulfilling prophecy, atau ramalan yang menggenapi dirinya
sendiri. Bukan berarti pikiran kita punya kekuatan magis untuk
"menarik" kenyataan, melainkan lebih pada bagaimana ekspektasi
memengaruhi cara kita bersikap, membaca situasi, bahkan tanpa sadar membentuk
suasana yang kita ciptakan sendiri. Ketika Miftah masuk dengan dugaan siswanya
tak menyukai bahasa Arab, kemungkinan besar cara ia membawakan diri di kelas
pun turut membentuk suasana yang sesuai dengan dugaannya. Sebaliknya, semangat
yang dibawa Dania kemungkinan turut menular pada murid-muridnya, menciptakan
suasana kelas yang seirama dengan emosinya.
Ini adalah representasi dari kekuatan pikiran. Bukan
kekuatan pikiran seperti yang ada di serial Stranger Things – ini adalah
kekuatan pikiran yang jadi inti dari manajemen emosional kita. Dalam sebuah
podcast, Fahrudin Faiz pernah mengutip perkataan Budha bahwa "hidup
kita dibentuk oleh pikiran kita; kita menjadi apa yang kita pikirkan.
Kegembiraan mengikuti pikiran jernih seperti bayangan yang tidak pernah pergi."
Fahrudin Faiz menjelaskan bahwa kegembiraan mengikuti pikiran jernih, dan
pikiran kita membentuk hidup kita, sehingga hidup kita adalah pandangan kita
sendiri pun berasal dari pikiran kita sendiri.
Kalau bercermin di ajaran islam, kita akan menemukan
konsep husnudzon, yang Allah sendiri mengatakan dalam Kalam-Nya "أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي"
sebuah hadis qudsi yang menyebutkan bahwa Allah memperlakukan hamba-Nya sesuai
dengan prasangka hamba tersebut kepada-Nya. Prasangka yang kita bawa – baik
atau buruk – ikut menentukan bagaimana keadaan itu akhirnya kita jalani, kita
sikapi, dan pada akhirnya kita rasakan hasilnya.
Barangkali, di situlah pelajaran terbesar dari hari
pertama kami mengajar. Bukan soal siapa yang mendapat kelas paling antusias
atau siapa yang harus berjuang lebih keras menumbuhkan minat siswanya. Melainkan
tentang bagaimana kami – dengan cara masing-masing dapat belajar bahwa niat
baik dan husnudzon yang mereka bawa ke dalam kelas, cepat atau lambat, akan
ikut membentuk bagaimana empat puluh hari PKL ini akan mereka jalani dan kenang. Dan
mungkin, itu juga berlaku untuk kita semua, bahwa cara kita memasuki sebuah
ruang – kelas, pekerjaan, atau kehidupan sehari-hari, dengan prasangka baik,
adalah langkah pertama untuk membuat ruang itu benar-benar terasa baik.
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar